RSS

PESANGON DAN KARAKTER SOSIAL MANUSIA

16 Agu

Saya bermaksud mengajak pembaca untuk menyimak realitas dunia kerja dalam hubungannya dengan jaminan hidup tenaga kerja, atau yang secara spesifik kita bahasakan dengan upah atau pesangon. Sepintas tema ini hanya berhubungan dengan uang. Akan tetapi kalau kita telusuri secara mendalam, tema upah atau pesangon sebenarnya memiliki kaitan yang tak terpisahkan dengan soal bagaimana kita memandang dan mengakui keberadaan kita dan sesama kita; atau dengan soal bagaimana kita mengartikan karakter sosial kita. Oleh karena itu diskusi mengenai upah atau pesangon pada tataran yang agak mendalam memiliki arti yang sama dengan mendiskusikan siapa diri kita dan siapa sesama saya. Sebelum menilai diri kita sendiri, marilah pertama-tama melihat bagaimana para pendahulu kita memahami persoalan ini.
Kita lihat bagaimana Aristoteles mendefinisikan manusia. Aristoteles, seorang filosof Yunani, terkenal dengan gagasannya tentang manusia sebagai makhluk sosial; makhluk yang hidup bersama manusia yang lain; makhluk yang ada dan berelasi dengan manusia lain. Bahwa manusia itu makhluk sosial tidak hanya bermaksud menegaskan ide tentang kewajiban manusia untuk bersosialisasi dengan sesamanya, melainkan ide tentang makhluk sosial terutama bermaksud menunjuk langsung pada kesempurnaan identitas dan jati diri manusia. Mengapa demikian? Sosialitas adalah kodrat manusia. Manusia tidak bisa hidup sendirian. Manusia memerlukan manusia lain. Secara kodrati, manusia adalah makhluk yang memiliki kecenderungan untuk hidup dalam kebersamaan dengan yang lain untuk belajar hidup sebagai manusia. Manusia adalah makhluk yang mencari kesempurnaan dirinya dalam tata hidup bersama. Manusia lahir, tumbuh dan menjadi insan dewasa karena dan bersama manusia lain. Maka definisi manusia sebagai makhluk sosial secara langsung bermaksud menegaskan bahwa hanya dalam lingkup tata hidup bersama kesempurnaan manusia akan menemukan kepenuhannya. Hidup dan perkembangan manusia, bahkan apa yang disebut dengan makna dan nilai kehidupan manusia hanya mungkin terjadi dalam konteks kebersamaan dengan manusia lain. Makna dan nilai hidup akan tertuang secara nyata apabila manusia mengamini dan mengakui eksistensi sesamanya. Juga pemekaran sebuah kepribadian akan mencapai kepenuhannya jika manusia mampu menerima kehadiran sesamanya
Apa yang menjadi tujuan hidup bersama? Tujuannya adalah good life. Hidup bersama ada secara natural karena masing-masing pribadi menghendakinya. Masing-masing pribadi menghendakinya karena sadar bahwa kesempurnaan dirinya hanya tercapai melalui kebersamaanya dengan manusia yang lain. Hidup bersama dengan demikian bukan pertama-tama sebuah “gerombolan” tanpa tujuan, melainkan sebuah kesatuan dan sistem yang terarah kepada kesempurnaan dan keutuhan masing-masing individu. Hidup bersama ada pertama-tama untuk memenuhi kehendak dan tujuan setiap pribadi manusia untuk menyempurnakan dirinya. Inilah yang dimaksud good life, yaitu teraktualisasinya kesempurnaan hidup masing-masing manusia dalam konteks hidup bersama.
Dalam pemikiran Aristoteles, manusia sebagai pribadi sungguh-sungguh merupakan elemen yang sangat penting dan fundamental bagi tata hidup bersama. Konsekuensi logis dari penegasan ini adalah bahwa setiap manusia harus memiliki komitmen untuk memperhatikan sesamanya dan berupaya untuk memusatkan diri pada mereka. Disposisi altruistis ini terutama dapat tercetus dari ketulusan dan dedikasi setiap individu dalam memotivasi diri sendiri dan orang lain untuk secara terus menerus mengupayakan hidup yang sempurna dan hidup yang selalu terarah pada apa yang baik bagi sesamanya.
Rupanya apa yang dipikirkan oleh Aristoteles memiliki nada yang sama dengan apa yang digagas oleh para pendiri negara Indonesia. Sukarno, Supomo, dan tokoh-tokoh Indonesia yang lain menggagas bahwa manusia Indonesia adalah manusia yang memiliki karakter gotong royong, kekeluargaan, kekerabatan, solidaritas, dan yang semacamnya. Konsep ini dapat kita temukan secara sangat gamblang dalam UUD 1945 dan Sila-sila Pancasila, yang kita sampai sekarang masih kita jadikan pondasi hidup kita.
Bagaimana ide Aristoteles dan para tokoh Indonesia ini kita padankan dengan tema upah atau pesangon? Upah atau pesangon merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana kita memahami dan mengejawantahkan karakter sosial kita. Mengapa? Karena seperti yang sudah saya katakan di atas, upah atau pesangon pada dasarnya bukan persoalan yang sekedar berhubungan dengan uang, melainkan merupakan persoalan yang lebih berkaitan dengan penghargaan manusia terhadap sesamanya. Soal penghargaan berarti soal bagaimana kita memandang dan memaknai kehadiran orang lain dalam hidup kita, atau soal bagaimana kita mendefinisikan siapa itu sesama saya. Perspektif sederhana yang sering muncul dalam konteks ini biasanya adalah: sesama saya itu sarana bagi saya atau tujuan bagi saya. Kalau kita mendefinisikan sesama sebagai sarana, maka kita sedang memperlakukan sesama kita sebagai sebuah barang. Konsekuensinya, bagaimana kita menghargai orang lain, juga berada pada tataran yang sama dengan bagaimana kita menghargai barang. Sesama kita nilai bukan pertama-tama karena mereka manusia, melainkan karena mereka bermutu atau tidak, layak atau tidak, berprestasi atau tidak, terampil atau tidak, dan seterusnya. Sebaliknya kalau kita memandang sesama sebagai sebuah tujuan, maka segalanya akan kita nilai berdasarkan kenyataan bahwa sesama saya adalah manusia yang memiliki hak dan martabat luhur, terlepas dari apakah sesama itu cantik, jelek, pandai atau bodoh, terampil atau tidak, berprestasi atau tidak.
Apakah gagasan pesangon dan karakter sosial ini tidak bertentangan dengan prinsip bisnis? Terhadap pertanyaan ini harus segera kita katakan bahwa bisnis juga memiliki etika dan aturan. Apa etika dan aturanya? Etika dan aturan dasarnya adalah bahwa bisnis dilakukan untuk manusia, dan bukan manusia untuk bisnis. Bisnis dilakukan bukan pertama-tama untuk mengeksploitasi manusia di satu sisi, dan menumpuk keuntungan di sisi lain. Sebaliknya bisnis dilakukan terutama untuk mengabdi manusia agar hidup manusia sejahtera. Prinsip ini dengan sangat tegas kelihatan pada rentetan gagasan yang dituangkan oleh para pendiri negara Indonesia, juga pada gagasan Aristoteles yang sudah kita lihat di atas.
Apakah gagasan pesangon, karakter sosial dan prinsip bisnis ini sudah berjalan di Indonesia?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 16, 2008 in BURUH

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: