RSS

MENGHARGAI MANUSIA, LEBIH DARI SEKEDAR PRODUKSI

31 Agu

Teks siaran radio FM Bethani Surabaya:
Dalam kesempatan berbicara yang pertama, saya lebih banyak mengungkap perihal situasi nyata dunia perburuhan, dengan segala pergulatan dan tantangannya. Dalam kesempatan ini, mungkin beberapa persoalan konkrit yang sudah pernah saya bicarakan itu, akan saya ungkap lagi, tetapi dalam kesempatan ini, saya ingin mengajak Anda semua, para pendengar, untuk lebih terfokus pada aspek terdalam dari panggilan kita sebagai orang kristiani dalam kaitannya dengan dunia perburuhan. Pertanyaan dasar yang saya jadikan pondasi untuk seluruh uraian dan pembicaraan kita kali ini adalah: “Seandainya Yesus Kristus berada dalam posisi Anda, kira-kira apa yang akan Dia lakukan?”
Agar pertanyaan itu dapat kita jawab secara kurang lebih agak lengkap, saya ingin mengajak Anda semua, para pemirsa untuk menyimak dua sumber terlebih dahulu, yaitu yang pertama Kitab Suci dan yang kedua dokumen-dokumen gereja.
Dari Kitab Suci, mulai dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, kita tidak akan menemukan banyak kesulitan untuk menemukan aneka point yang berhubungan dengan tema-tema sosial-perburuhan. Terutama dalam perjanjian lama, kita dapat menemukan banyak sekali perikop-perikop yang berhubungan dengan relasi majikan/tuan dengan pekerja.
Beberapa contoh ayat yang saya maksudkan misalnya:
a. Yang berhubungan dengan sikap pengusaha terhadap buruh:
• Tentang kewajiban pengusaha memberikan gaji kepada karyawannya.
Imamat 19:13 Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.
Ulangan 24:15 Pada hari itu juga haruslah engkau membayar upahnya sebelum matahari terbenam; ia mengharapkannya, karena ia orang miskin; supaya ia jangan berseru kepada TUHAN mengenai engkau dan hal itu menjadi dosa bagimu.
Yesaya 61:8 Sebab Aku, TUHAN, mencintai hukum, dan membenci perampasan dan kecurangan; Aku akan memberi upahmu dengan tepat, dan akan mengikat perjanjian abadi dengan kamu.
Yeremia 22:13 Celakalah dia yang membangun istananya berdasarkan ketidakadilan dan anjungnya berdasarkan kelaliman, yang mempekerjakan sesamanya dengan cuma-cuma dan tidak memberikan upahnya kepadanya
• Tentang sikap pengusaha yang harus adil.
Imamat 25:6 Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu.
• Tentang kebijakan dalam mem-PHK
Imamat 25:50 Bersama-sama dengan si pembelinya ia harus membuat perhitungan, mulai dari tahun ia menyerahkan dirinya kepada orang itu sampai kepada tahun Yobel, dan harga penjualan dirinya haruslah ditentukan menurut jumlah tahun-tahun itu; masa ia tinggal pada orang itu haruslah dihitung seperti masa kerja orang upahan.
• Tentang bagaimana kita harus memperlakukan karyawan
Imamat 25:53 Demikianlah ia harus tinggal padanya sebagai orang upahan dari tahun ke tahun. Janganlah ia diperintah dengan kejam oleh orang itu di depan matamu.
b. Yang berhubungan dengan sikap buruh:
o Hagai 1:6 Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!

c. Yang berhubungan dengan sikap keduanya:
• I Korintus 3: 8 Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.
Pedoman kedua yang kiranya dapat – atau mungkin lebih tepat dikatakan harus – kita gunakan sebagai acuran dalam karya pekerjaan kita adalah dokumen-dokumen gereja.
Dan dari Negara Indonesia sendiri kita mewarisi banyak sekali hukum dan perundang-undangan.
Inilah beberapa sumber yang mungkin dapat kita jadikan referensi untuk hidup dan karya kita di bidang sosial. Saya dan anda semua tahu persis, bahwa menjalankan hidup sesuai dengan tuntutan ketiga sumber itu tidaklah mudah. Tidak mudah, selain karena kita berhadapan dengan aturan yang kadang-kadang tidak sesuai dengan kondisi dan kemampuan riil kita, juga karena kita selalu berhadapan dengan aneka kepentingan dan keunikan pribadi manusia. Dengan latar belakang ini: sekarang Saya ingin mengajak Anda untuk kembali merenungkan pertanyaan yang sudah saya sodorkan diawal tadi: “Seandainya Yesus Kristus berada dalam posisi Anda, kira-kira apa yang akan Dia lakukan?”
Dan inilah kesimpulan yang bisa saya kemukakan:
1. Seperti yang dilakukan oleh Yesus sendiri, semua karya kita, dengan pelbagai macam pergulatannya, merupakan bentuk, cara, dan kesempatan kita untuk memberi kesaksian tentang iman kita.
2. Seperti yang menjadi orientasi semua dokumen-dokumen gereja dan seperti yang diajarkan oleh Yesus sendiri, kita juga dituntut untuk menempatkan manusia di atas semua aturan dan kepentingan.
3. Kita semua saling membutuhkan: pengusaha membutuhkan buruh, buruh membutuhkan pengusaha. Oleh karena itu sebenarnya ideal kalau kedua belah pihak saling terbuka dengan adanya dialog. Apa syaratnya: kesediaan untuk saling mendengarkan dan menghargai orang lain.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 31, 2008 in BURUH

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: