RSS

KARL MARX DAN CITA-CITA GERAKAN SOSIAL

14 Sep

Dalam dunia para pemerhati dan praktisi bidang sosial, nama Karl Mark tentu bukan sesuatu yang asing. Karl Marx adalah seorang filosof – lebih tepatnya seorang filosof sosial – kelahiran Jerman. Dalam hidupnya, Karl Marx dikenal sebagai sosok yang radikal. Radikalisme Marx sangat kentara dalam kritik-kritik dan gerakan perlawanannya terhadap situasi sosial masyarakat pada saat itu. Pada jaman Marx masyarakat di bedakan dalam dua kelompok. Yang pertama adalah kelompok kaya (pemilik modal) dan yang kedua adalah kelompok miskin (para buruh – proletar). Kondisi ini – menurut Marx – merupakan pemicu lahirnya pertentangan, kebencian, kecemburuan sosial, dan ketidakadilan. Marx dengan sosialismenya bermaksud merombak struktur sosial yang semacam ini. Marx yakin bahwa keadilan akan terwujud jika terjelma masyarakat tanpa kelas. Upaya yang harus dilakukan dalam hal ini adalah dengan menggusur kelompok pemilik modal.

Karena aktualitas dan kemendesakannya, ideologi marxisme sempat menjadi salah satu ideologi terbesar. Partai-partai buruh juga sempat menggunakan ideologi marxisme sebagai pondasi gerakannya. Karl Marx sendiri pernah menjadi salah satu ketua “Asosiasi Buruh Internasional” tahun 1864. Namun dalam perkembangannya, ideologi marxisme tidak nge-trend lagi, bahkan sama sekali mati. Matinya atau gagalnya marxisme terutama disebabkan oleh cara pandangnya sendiri yang mereduksi hakekat manusia dari sudut ekonomis materialistis saja.

Untuk sebuah cita-cita membangun tatanan sosial yang adil dan sejahtera, pola-pola filsafat Karl Marx, jelas tidak recommended lagi. Lantas, pola gerakan yang semacam apa yang kiranya lebih pas? Pada tataran ini, Eric Fromm menawarkan gagasan yang cemerlang. Fromm berkesimpulan bahwa tatanan hidup bersama yang sehat hanya tercapai jika terjadi perubahan-perubahan yang serempak dalam bidang organisasi industri dan politik, dalam bidang orientasi rohaniah dan filosofis, dalam bidang struktur watak, dan dalam bidang kegiatan-kegiatan budaya. Konsentrasi usaha pada salah satu bidang itu sambil menyingkirkan atau mengabaikan bidang-bidang yang lain – menurut Fromm – justru akan merusak semua perubahan.

Tugas siapa ini? Jawabannya jelas. Ini adalah tugas setiap warga masyarakat, yang secara praktis terbagi dalam 3 kategori, yaitu pemerintah, pasar (modal), dan sipil (buruh termasuk dalam kategori yang ketiga ini). Idealnya, dalam upaya pencapaian tatanan sosial yang adil, ketiga elemen ini membentuk sebuah kekuatan sinergis.

Buruh dengan segala gerakannya di Indonesia, sebenarnya bermaksud untuk mendukung dan mengawal kesatuan yang sinergis itu. Tetapi upaya-upaya itu ternyata seringkali justru tidak memperoleh tanggapan yang positif dari elemen yang lain, bahkan dari masyarakat sipil di luar buruh. Banyak lontaran penilaian bahwa buruh itu anarkis, buruh itu kerjanya hanya menuntut, buruh itu kerjanya hanya membuat macet lalu lintas.

Saya tidak ingin berkata bahwa penilaian itu salah. Tetapi di sini saya ingin menyodorkan beberapa gagasan tentang apa yang sesungguhnya terjadi dalam diri para buruh. Singkatnya, para buruh Indonesia sebenarnya sudah sampai pada tahap kebosanan terhadap aneka bentuk ketidakadilan dan kemerosotan tanggung-jawab moral-sosial masyarakat Indonesia, terutama pemerintah dan para pelaku modal. Para buruh Indonesia bukanlah pribadi yang termasuk dalam jajaran akademisi yang menilai dan melakukan sesuatu berdasarkan literatur. Para buruh Indonesia, meskipun termasuk dalam jajaran kaum beragama, tetapi bukanlah orang suci yang merefleksikan hidupnya sekedar berdasarkan ayat-ayat kitab suci. Para buruh Indonesia bukanlah pribadi yang termasuk dalam jajaran para pakar hukum, yang bisa memutuskan benar dan salahnya sebuah perkara hanya berdasarkan logika tekstual-dokumentatif. Para buruh Indonesia bukanlah politisi yang bisa memutar-balikkan fakta.

Sebaliknya para buruh Indonesia adalah pribadi yang menyaksikan dan merasakan secara langsung aneka bentuk ketidakadilan. Kalau buruh melakukan gerakan dan aksi massa, mungkin benar jika dikatakan bahwa buruh sedang berada dalam pelanggaran norma-norma umum masyarakat. Tetapi kalau dirunut dari hukum ketenaga-kerjaan aktivitas itu sebenarnya adalah sah, bahkan malah harus dikatakan bahwa aktivitas itu adalah bagian dari hak buruh. Juga dengan pelbagai bentuk aktivitasnya, masyarakat buruh sebenarnya sedang ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa proses demokrasi tidak jalan. Buruh bukanlah musuh kebebasan, melainkan justru merupakan pejuang-pejuangnya. Aksi dan pelbagai bentuk kegiatan yang dilakukan buruh bukanlah tanda terbenamnya kesadaran, melainkan sebaliknya: pencerahan kesadaran akan hak-hak manusia.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 14, 2008 in BURUH

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: