RSS

MASIH ADA HARAPAN

02 Mei

Pemilu anggota legislatif sudah berakhir. Entah barapa milyard dana yang dikeluarkan secara resmi oleh pemerintah terlebih oleh para caleg. Beberapa teman mengatakan ada caleg yang mengeluarkan ratusan juta rupiah bahkan sampai mencapai bilangan milyard rupiah untuk mempromosikan diri agar terpilih menjadi anggota legislatif. Mendengar besarnya jumlah uang yang dikeluarkan oleh seorang caleg dalam situasi krisis ekonomi seperti saat ini membuat banyak orang yang mendengar bisa terperangah. Pertanyaannya ialah uang sebesar itu digunakan untuk apa saja? Pernah ada media yang akan dituntut dan ada penangkapan ketika memberitakan bahwa ada anak seorang petinggi negara memberi uang kepada banyak orang agar memilihnya menjadi anggota legislatif. Semua caleg menolak telah menggunakan uang untuk membeli suara. Badan pemerintah juga mengatakan akan menuntut bila ada money politic. Tapi di lapangan pernyataan itu hanya menjadi bahan tertawaan. Orang yang mampu membayar besar akan dicontreng.
Bila seorang caleg harus mengeluarkan dana ratusan juta rupiah bahkan sampai milyard apakah jika dia sudah menjadi anggota legislatif maka dia akan memikirkan rakyat yang telah mencontrengnya? Hal ini sangat meragukan, sebab bagaimana pun mereka sudah menanam modal. Seperti layaknya orang berbisnis, maka setiap modal yang dikeluarkan harus kembali berlipat. Dalam sebuah obrolan di tepi jalan seorang teman mengatakan bahwa caleg yang berhasil dia akan berpikir bagaimana dia akan mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. Kapan BEP (break event point) tercapai. Bila mereka mengejar BEP apakah kepentingan rakyat akan menjadi prioritas? Maka tidak jarang ditemui para anggota legislatif tertidur dalam rapat atau sangat jarang datang ke kantor untuk rapat. Mungkin BEP sudah tercapai dan tinggal mengambil untungnya saja atau memang dia tidak peduli dengan kepentingan rakyat sebab yang dipikirkan hanya bagaimana mendapatkan untung.
Melihat PEMILU yang sangat memprihatikan seperti ini muncul pertanyaan akan dibawa kemanakah negara ini? Sebuah sistem baru sudah dibuat tapi ternyata pelakunya masih orang lama atau orang baru dengan mentalitas lama, maka rasanya negara ini akan berjalan di tempat. Bagi banyak orang yang menginginkan negara yang lebih baik hanya akan dapat gigit jari dan bermimpi. Pada saat sebelum PEMILU hampir semua caleg selalu mengatakan bahwa mereka akan memperjuangkan nasib rakyat tapi bila melihat cara mereka mencapai kursi empuk di dewan maka slogan yang mereka katakan pada saat kampanye akan seperti setetes embuh di pagi hari yang indah dan kemilau namun dalam waktu sekejap mata akan musnah bersama munculnya matahari kenyataan hidup.
Dalam situasi seperti ini orang akan frustasi. Orang akan apatis dan mempertanyakan buat apa PEMILU bila berjalan seperti ini? Apakah lebih baik tidak ada PEMILU? Negara membutuhkan dewan perwakilan rakyat dan presiden, namun semua harus berproses secara benar, bukan dengan cara-cara kotor dan sangat memalukan. Untuk itu perlu perubahan. Kadang kita ingin mengadakan perubahan secara cepat dan di luar diri kita. Perubahan yang paling mendasar dimulai dari dalam diri kita lalu kita mengajak sebanyak mungkin orang untuk berubah. Saat ini negara membutuhkan kejujuran dan budaya malu. Bila ada kejujuran maka segala korupsi dan kecurangan tidak akan terjadi. Bila kita mempunyai budaya malu, maka kita akan mengukur kepantasan diri sendiri apa layak menjadi anggota dewan atau tidak, sebab anggota dewan bukan untuk memperkaya diri tapi untuk melayani masyarakat.
Perubahan tidak dapat cepat sebab yang diubah bukanlah sebuah sistem tapi mentalitas masyarakat. Perubahan dimulai sejak dini, dimana anak-anak diajar untuk hidup jujur dan menghargai perbedaan. Diajar etika hidup dan adat istiadat yang sesuai dengan budaya kita. Diajar untuk mempunyai budaya malu. Di beberapa sekolah dibuka warung kejujuran dimana warung itu tidak ada yang menjaga sehingga para murid dapat mengambil makanan dan membayar sesuai dengan apa yang diambilnya tanpa ada yang mengawasi. Ternyata sebagian besar warung ini tutup sebab merugi. Hal ini menunjukkan bahwa sejak kecil anak sudah terbiasa tidak jujur. Bila ketidakjujuran sudah terbiasa dilakukan sejak dini apakah nanti kalau dewasa dia akan berubah menjadi jujur?
Perubahan tidak mungkin dimulai dari orang tua. Hal ini bukan menghina orang tua, tapi karena hati nuraninya sudah bebal oleh aneka kepentingan. Maka perubahan dilakukan sejak dini. Dalam diri anak-anak senantiasa ditanamkan kejujuran, sehingga lambat laun nilai kejujuran akan menjadi bagian dari hidup seorang anak sampai dewasa nanti. Dengan demikian harapan tetap ada bila kita mau berjuang untuk memulai menegakkan nilai-nilai yang saat ini sudah hilang atau luntur.
Hidup harus memiliki harapan. Inilah yang membuat orang tetap bersemangat untuk melanjutkan kehidupannya. Bila orang sudah kehilangan harapan terhadap para pejabat dan anggota dewan maka dia tidak akan peduli lagi dengan apa yang terjadi di negara ini. Dia akan acuh dan sinis. Bagaimana negara ini akan berkembang dan maju bila sebagian besar rakyatnya acuh tak acuh atas apa yang terjadi dalam pemerintahan? Atau rakyat akan berhenti hanya dengan mencaci daripada mencari jalan keluar untuk memperbaiki. Oleh karena itu perlu ditanamkan harapan negara yang lebih baik di masa mendatang. Harapan hanya sekedar menjadi cita-cita kosong bila orang tidak berusaha merealisasikan harapan itu. Maka kinilah saatnya untuk berubah. Kita lupakan para caleg yang gila akibat kehabisan dana atau legislatif yang hanya berpikir tercapainya BEP. Kita mulai bergerak dengan mewartakan kejujuran kepada siapa saja. Mewartakan bukan hanya dengan kata melainkan cara hidup. Kita mengubah diri kita menjadi orang jujur dan memberi perhatian pada masalah dan persoalan sesama. (gani)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 2, 2009 in ARTIKEL

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: