RSS

SWEAT SHOP

28 Agu

Domin Dhamayanti’s Notes
baik untuk anda ketahui…
Share
Today at 12:50pm

Sebelumnya saya minta ijin kepada pemilik tulisan dan data ini Jim Keady. Tulisan ini saya ambil dari milis kampanye gerakan buruh. Saya merasa ini penting untuk diketahui dan sebarluaskan. Jadi saya upload tulisan ini facebook, berharap agar kampanye ANTI SWEATSHOP dapat semakin luas dan memperoleh banyak dukungan. Tulisan dibawah ini, tidak saya ubah atau tambahkan sedikitpun. Terima kasih.

PERNAH DENGAR TENTANG SWEAT SHOP ?
Tahukah kalian bahwa ada konsumen dan investor dari seluruh penjuru dunia yang punya perhatian terhadap kesejahteraan buruh Nike di Indonesia? Tahukah kalian bahwa para konsumen dan investor ini ingin membantu kalian memperjuangkan keadilan yang memang layak kalian dapatkan? Tahukah kalian bahwa buruh Indonesia, serikat pekerja, dan LSM telah berkolaborasi dengan orang-orang yang punya keprihatinan sama dari seluruh dunia selama lebih dari 15 tahun untuk memperbaiki kondisi bagi para buruh Nike? Kalian tidak sendirian.

Team Sweat adalah sebuah koalisi internasional dari buruh Nike, konsumen Nike, dan investor Nike yang komit untuk mengakhiri ketidakadilan dalam praktik sweatshop Nike di seluruh dunia. Dengan mendasarkan diri pada perjuangan terkait isu sweatshop Nike yang sudah berusia lebih dari satu setengah dasawarsa, Team Sweat berjuang untuk memastikan bahwa …

• Nike membayarkan upah yang layak dan adil bagi para buruh pabriknya.

• Nike bersedia bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan kolektif dengan serikat pekerja di tingkat pabrik dan pemilik pabrik.

• Nike membuat komitmen jangka panjang dengan komunitas di Indonesia di mana terdapat pabrik.

Kalian pun menginginkan hal yang sama? Ingin tahu lebih banyak? Jika jawaban kalian untuk kedua pertanyaan di atas adalah ya … teruskanlah membaca.

KEDENGARAN TAK ASING ?
Kalian bangun pagi-pagi sekali, sarapan seadanya, meninggalkan rumah kontrakan kalian, dan berjejal-jejal di bus kota dengan ribuan buruh lain yang juga berangkat ke pabrik. Ketika sampai, kalian bekerja lima belas menit awal dari bel, karena itulah aturan tak tertulisnya—tapi, kalian tidak dibayar untuk kerja itu. Kalian lalu bekerja di bagian kalian selama beberapa jam. Kalian bekerja keras. Kalian menjahit, memasang tali sepatu, atau bekerja di mesin hot press. Keringat kalian bercucuran. Jika kalian bekerja lambat, manajer akan meneriaki kalian, menyebut kalian dengan segala nama binatang, atau menganggap kalian orang yang tolol atau malas. Kalian mencoba melakukan yang terbaik, tetapi target produksinya terlalu tinggi, sehingga kalian tak mungkin kerja lebih cepat lagi. Untungnya, kalian masih bisa istirahat dan sholat selama satu jam. Meskipun makanannya tak enak dan tak bergizi, kalian tetap makan di kantin pabrik karena gratis dan kalian perlu menghemat. Setelah makan siang, kalian kembali ke bagian masing-masing untuk bekerja lagi selama tiga jam. Setelah itu, kalian masih bekerja lembur beberapa jam lagi untuk mengejar target. Pada akhir hari, kalian merasa sangat capek dan seluruh tubuh terasa pegal. Kalian pulang dan berebut tempat di bus kota yang akan mengantarkan kalian ke rumah kontrakan kalian. Kalian sampai di dekat rumah, berjalan gontai beberapa meter, menyusuri lorong-lorong sempit yang di kanan-kirinya tampak tumpukan sampah busuk. Kalian lepaskan baju kalian yang sudah basah oleh keringat, lalu mandi. Kemudian, kalian makan di warteg atau puas dengan nasi dan ikan asin jika uang lagi pas-pasan. Kalian masih sempatkan waktu untuk ngobrol dengan beberapa teman, sebelum akhirnya kantuk menyerang dan kalian berangkat tidur di atas tikar di lantai semen yang keras. Hari berikutnya, kalian bangun dan melakukan hal yang sama lagi.

BUKANKAH KERJA DI PABRIK NIKE MESTINYA MENGUBAH HIDU KALIAN ?
Dulu, kalian sangat senang ketika diterima bekerja di pabrik. Kalian diberitahu bahwa bekerja di sini akan menyejahterakan diri kalian dan keluarga kalian. Kalian diberitahu bahwa bekerja di pabrik Nike sangat bagus, sebab ia adalah sebuah perusahaan AS yang paling sukses. Tapi, kini kalian pikir ini tak benar. Situasinya tak sebaik seperti yang diceritakan orang. Kalian sudah bekerja keras, tapi masih juga kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Rasanya, kalian jadi malas untuk tetap bekerja di sana. Tetapi, jika tidak bekerja, mau makan apa? Orang harus bekerja kan supaya bisa makan?

SIAPA SIH PEMBUAT KEPUTUSAN DI NIKE DAN BERAPA GAJI MEREKA ?
Di pabrik kalian, ada kepala bagian, pengawas, manajer, dan pemilik pabrik, tetapi mereka ini bukanlah orang yang membuat keputusan penting untuk Nike, eksekutif top di Amerikalah yang melakukan hal ini. Mereka inilah yang menetapkan berapa harga yang akan dibayarkan Nike untuk sepasang sepatu atau aparel—yang memengaruhi berapa besar upah kalian. Mereka juga menetapkan target produksi—yang memberi dampak pada seberapa cepat kalian harus bekerja dan berapa jam lembur yang mesti kalian jalani. Jadi, pada akhirnya orang-orang inilah yang bertanggung jawab pada upah dan kondisi kerja para buruh Nike di Indonesia. Terus, siapa saja mereka itu?

PHIL KNIGHT, KETUA DEAN DIREKSIi
Phil Knight adalah salah satu pendiri Nike, Inc. Dia pernah menjadi CEO dan sekarang posisinya adalah Ketua Dewan Direksi. Selama 30 tahun, Mr. Knight telah memimpin Nike untuk mengeksploitasi buruh yang murah di Asia dan Amerika Tengah untuk membuat produk-produk Nike. Hasil dari eksploitasi ini, Mr. Knight telah menjadi seorang miliarder Amerika. Pada 2008, sahamnya di Nike setara dengan kekayaan sebesar Rp105.000.000.000.000, menjadikannya orang terkaya nomor 31 di Amerika Serikat. Pada tahun yang sama, gaji pokok Mr. Knight di Nike adalah Rp28.254.340.000. Paket kompensasi utuhnya, termasuk bonus dan tunjangan, adalah sebesar Rp34.564.540.000.

MARK PARKER, PRESIDEN DAN CEO
Mr. Parker menjadi Presiden dan Chief Executive Officer Nike Inc. sejak Januari 2006. Dia telah bekerja di Nike sejak 1979 dengan tanggung jawab utama dalam riset produk, desain dan pengembangan, pemasaran, dan manajemen merk. Mr. Parker ditunjuk sebagai Wakil Presiden divisi urusan pengembangan pada 1987, Wakil Presiden perusahaan pada 1989, Manajer Umum pada 1993, Wakil Presiden urusan Sepatu Internasional pada 1998, dan Presiden Merk Nike pada 2001. Pada 2008, gaji pokok Mr. Parker dari Nike adalah Rp13.769.230.000. Kompensasi lengkap yang didapatnya dari Nike adalah senilai Rp88.005.870.000.

DONALD BLAIR, CHIEF FINANCIAL OFFICER, WAKIL PRESIDEN
Mr. Blair bergabung dengan Nike, Inc. pada November 1999. Sebelum bergabung, dia memegang beberapa posisi manajemen keuangan di Pepsico, Inc., termasuk posisi Wakil Presiden, Keuangan Pepsi-Cola Asia, Wakil Presiden, Perencanaan PepsiCo’s Pizza Hut Division, dan Wakil Presiden Senior, Keuangan di The Pepsi Bottling Group, Inc. Sebelum bergabung dengan Pepsico, Mr. Blair adalah seorang akuntan bersertifikasi di Deloitte, Haskins, and Sells. Pada 2008, gaji pokok Mr. Blair di Nike adalah Rp7.400.000.000. Kompensasi lengkap yang diperolehnya dari Nike adalah senilai Rp33.470.000.000.

Gary DeStefano, Presiden Operasi Global
Mr. DeStefano telah bekerja di Nike, Inc. sejak 1982, dengan tanggung jawab utama dalam penjualan dan administrasi regional. Mr. DeStefano diangkat sebagai Direktur Penjualan Domestik pada 1990, Wakil presiden divisi urusan penjualan domestic pada 1992, Wakil Presiden Penjualan Global pada 1996, Wakil Presiden dan Manajer Umum Asia Pasifik pada 1997, Presiden Operasi di AS pada 2001 dan Presiden Operasi Global pada 2006. Pada 2008, gaji pokok Mr. DeStefano di Nike adalah sebesar Rp9.588.460.000. Kompensasi lengkapnya dari NIKE adalah senilai $39.984.080.000.

Charlie Denson, Presiden Merk NIKE
Mr. Denson sudah bekerja dengan NIKE, Inc. semenjak 1979. Mr. Denson telah memegang beberapa posisi manajemen di dalam perusahaan, termasuk pengangkatannya sebagai Direktur Penjualan Aparel AS pada 1994, Wakil Presiden divisi, Penjualan AS pada 1994, Wakil Presiden divisi Penjualan Eropa pada 1997, Wakil Presiden divisi dan Manajer Umum NIKE Eropa pada 1998, Wakil Presiden dan Manajer Umum NIKE AS pada 2000, dan Presiden Merk NIKE pada 2001. Pada 2008, gaji pokok Mr. Denson dari NIKE sebesar Rp11.923.100.000. Kompensasi lengkap yang diperolehnya dari NIKE adalah sebesar Rp73.333.700.000.

Siapa lagi yang menangguk nikmat dari keringat kalian?
Nike menjual produk yang kalian buat di lebih dari 160 negara. Itu artinya para atlit, konsumen, dan investor dari seluruh dunia diuntungkan oleh kerja keras kalian. Pada 2008, Nike menjual produk senilai Rp186.000.000.000.000. Dari penjualan ini, Nike menangguk untung sebesar Rp18.800.000.000.000.

Pada 2008, Nike membelanjakan Rp28.000.000.000.000 untuk iklan. Itu berarti bahwa banyak eksekutif periklanan, direktur, jurukamera, fotografer, model, dan seniman yang dibayar tinggi untuk menciptakan iklan dan komersial yang meyakinkan konsumen untuk membeli produk yang kalian buat saban hari di pabrik.

Pada 2008, Nike juga membelanjakan Rp34.000.000.000.000 untuk ikatan kontrak. Di bawah adalah beberapa altit dan tim yang terikat kontrak dengan Nike berikut jumlah uang yang mereka hasilkan setiap tahun darinya. Yang harus dilakukan para atlit itu hanyalah bergaya dan bermain sambil mengenakan sepatu dan aparel yang akan kalian buat dengan keringat kalian.

Michael Jordan (Bola basket) Rp200.000.000.000
LeBron James (Bola basket) Rp128.600.000.000
Maria Sharapova (Tenis) Rp50.000.000.000
Kevin Durant (Bola basket) Rp85.700.000.000
Tiger Woods (Golf) Rp200.000.000.000
Serena Williams (Tenis) Rp110.000.000.000
Freddy Adu (Sepak Bola) Rp10.000.000.000
Alex Rodriguez (Bisbol) Rp10.000.000.000
Franck Ribery (Sepak Bola) Rp16.000.000.000
Wayne Rooney (Sepak Bola) Rp7.530.000.000
Tim sepak bola Brasil Rp220.000.000.000
Tim Manchester United Rp293.000.000.000
Tim FC Barcelona Rp378.000.000.000
Tim Sepak bola Prancis Rp634.000.000.000

Ketika kalian baca berapa banyak yang didapat oleh para atlit tersebut dari Nike, bagaimana perasaan kalian? Kadang, para buruh berkata bahwa mereka iri dan berharap bisa seperti mereka. Tapi, jika kalian mendapat sebanyak yang mereka peroleh, tidakkah kalian merasa telah mengeksploitasi dari orang lain. Enakkah perasaan kalian? Tanggung jawab apa yang mestinya diemban oleh para atlit yang mempromosikan produk Nike ini terhadap buruh Nike?

APAKAH NIKE BERTANGGUNG JAWAB ATAS KESEJAHTERAAN KALIAN ?
Ketika kalian dan teman-teman buruh kalian menginginkan perubahan di pabrik, kalian biasanya datang kepada manajer atau pemilik pabrik kan? Tetapi, bukankah yang kalian buat itu produk Nike? Bukankah, kalau begitu, seharusnya kalian memintanya kepada Nike?

Saat para buruh ditanya dengan pertanyaan ini di masa lampau, mereka kadang menjawab, “Tapi, kami nggak bekerja untuk Nike. Kami kerja untuk perusahaan seperti PT KMK atau PT DONG ONE atau PT ADIS. Jadi, kami kan harus menuntut kesejahteraan dari mereka? Apa Nike memang bertanggung jawab untuk upah dan kondisi kerja kami?”

Yup, Nike bertanggung jawab atas gaji dan kondisi kerja kalian. Kenapa kami bilang begitu? Karena Phil Knight, pendiri dan ketua Nike, pernah mengatakan bahwa Nike punya tanggung jawab.

Kembali ke 1998, Mr. Knight diwawancarai oleh seorang reporter PBS (Televisi AS). Reporter itu bertanya tentang kondisi kerja para buruh di pabrik-pabrik Nike di berbagai tempat seperti Indonesia. Sang reporter bilang bahwa para buruh ini secara teknis memang bukan karyawan Nike, tetapi mereka bekerja untuk subkontraktor. Berikut adalah petikan wawancara tersebut.

REPORTER: “Karyawan-karyawan ini secara teknis bukan karyawan Nike, (mereka) itu karyawan subkontraktor. Tapi, …. Anda berkata bahwa pada dasarnya Anda bertanggung jawab atas kondisi kerja mereka.”

PHIL KNIGHT: “Tentu saja. Dan, kami memandangnya lebih dari sekadar relasi subkontrak…. yang ada adalah kemitraan, bukan dalam arti legal, tetapi dalam pengertian moral.”

Jadi, Phil Knight, Ketua Dewan Direksi Nike, mengatakan bahwa relasi Nike dengan buruh pabrik lebih dari sekadar kontrak legal. Dia bilang bahwa Nike punya tanggung jawab moral untuk kesejahteraan kalian.

Menurut kalian, apakah Nike telah benar-benar bertanggung jawab secara moral atas kesejahteraan kalian? Bisakah kita memercayai perkataan Mr. Knight itu? Jika kita ingin dia mempertanggungjawabkan perkataannya, apa yang harus kita lakukan? Kekuasaan apa yang dipunyai para buruh atas Mr. Knight dan eksekutif korporat di Amerika Serikat?

Tahukah kalian bahwa Nike pernah berkata bahwa mereka menganggap kalian “karyawan Nike”?
Betul, kalian mesti melihat diri kalian sebagai karyawan Nike. Kenapa? Karena itulah yang pernah dikatakan Dusty Kidd, mantan Wakil Presiden Nike urusan Tanggung Jawab Korporat. Berikut adalah komentarnya dalam sebuah wawancara pada 2000.

DUSTY KIDD: “Sangat sederhana. Phil Knight pernah menjelaskannya sekitar dua tahun lalu. Para buruh itu—kita mesti melihatnya sebagai karyawan Nike. Jadi, mereka adalah tanggung jawab kita.”

Wow! Tahukah kalian bahwa kalian dipandang sebagai “karyawan Nike” oleh eksekutif puncak di Nike? Jika ini benar, artinya Nike mesti member kalian jauh lebih banyak dari yang kalian terima saat ini. Karyawan Nike di Amerika Serikat dan Eropa memperoleh layanan kesehatan yang sangat bagus, punya dana pension, cuti berbayar, dan bekerja di kantor yang paling nyaman dan ramah lingkungan. Bahkan wiraniaga level terendah di Nike memperoleh gaji bagus. Mereka dibayar Rp102.150 per jam. Itu 35% lebih tinggi daripada UMR Amerika Serikat.

Jika kalian adalah karyawan resmi Nike Corporation, tuntutan apa yang mestinya kalian arahkan kepada Nike? Coba untuk berpikir secara spesifik. Dulu, buruh biasa berkata, “Aku ingin Nike meningkatkan kesejahteraan kami.” Apa artinya itu? Kalian ingin peningkatan upah? Jika ya, berapa banyak? Kalian ingin membatasi jumlah jam lembur? Kalian ingin memperoleh asuransi kesehatan? Ingat, Nike menganggap kalian karyawan mereka dan di mana-mana karyawan Nike mendapat upah sangat layak, jadi kenapa kalian tidak?

Tahukah kalian bahwa Phil Knight, pendiri Nike dan ketua Dewan Direksinya saat ini, pernah mengatakan bahwa buruh pabrik di tempat-tempat seperti Indonesia mendapat upah yang layak?
Seorang reporter bertanya kepada Mr. Knight tentang upah buruh pabrik di tempat-tempat seperti Indonesia. Berikut adalah petikannya.

REPORTER: “Mr. Knight… apakah Anda yakin bahwa buruh memperoleh upah yang layak?”

PHIL KNIGHT: “Tentu saja. Tak diragukan lagi.”

Mr. Knight mengatakan kepada dunia bahwa buruh telah dibayar secara layak. Menurut kalian, benarkah pernyataannya itu? Upah yang layak adalah upah yang memungkinkan kalian untuk membeli makanan, pakaian, perumahan, layanan kesehatan, pendidikan untuk anak-anak, rekreasi, dan menabung walau sedikit. Apakah upah kalian saat ini cukup untuk memenuhi semuanya ini? Jika tidak, mengapa Mr. Knight bilang seperti dikatakannya di atas? Jika kalian punya kesempatan untuk bicara dengannya, apakah yang akan kalian bilang mengenai upah kalian?

Di bawah adalah pernyataan lain dari pejabat Nike tentang upah. Vada Manager, mantan Direktur Manajemen Isu Global Nike.

VADA MANAGER: Kami punya code yang berlaku global dan mengatur pemberian upah yang jauh melampaui upah minimum regional atau nasional.

Kalian pasti sudah pernah melihat dan membaca Code of Conduct Nike – itu ada di papan nama Anda dan ditempel di dinding pabrik. Apakah di sana ditulis bahwa Nike akan membayar upah “yang jauh melampaui upah minimum regional atau nasional”? Apakah saat ini kalian dibayar jauh lebih besar dari UMR di Tangerang—Rp. 953.000?

Tapi, pemerintah Indonesia sudah menetapkan UMR. Tidakkah Nike cuma harus mematuhinya?
Tidak. Nike tidak boleh hanya membayar upah minimum. Mereka tentu bisa dan harus membayar kalian lebih. Upah minimum hanyalah batas MINIMUM! Upah itu adalah batas bawah sehingga pabrik tak boleh membayar di bawah itu. Bukankah kerja Anda layak diberi lebih dari sekadar angka di atas? Lihat kembali gaji wiraniaga level entri di NIKE AS yang aku singgung sebelumnya. Mereka dibayar 35% di atas UMR sebagai gaji awal mereka. Bukankah kita seharusnya dapat paling tidak sama dengan itu?

JADI BAGAIMANA KAMI HARUS BERJUANG UNTUK MENDAPATKAN UPAH LEBIH TINGGI YANG MEMANG LAYAK KAMI DAPATKAN ?
Pertama, kalian harus menyadari kekuatan besar yang kalian punyai. Nike adalah perusahaan pembuat pakaian olahraga tersukses di dunia dan mereka tak akan mampu mencapainya tanpa kalian. Ya, kalian! Kalianlah yang menghasilkan uang bagi Nike, Inc. Tanpa kerja keras kalian, Nike tak punya apa-apa untuk dijual dan tak punya uang karenanya.
Saat ini, ada kira-kira 800.000 buruh pabrik di 700 pabrik yang memproduksi bagi Nike di 52 negara di seluruh dunia. Tahukah kalian bahwa Indonesia memiliki 37 pabrik kontrak semacam ini, dengan 123.000 buruh dan menduduki peringkat ketiga dalam hal produk Nike? Tahukah kalian bahwa buruh di Indonesia memproduksi 21% dari produk Nike di dunia?

Persentase Produksi Global Nike
Cina 35%
Vietnam 29%
Indonesia 21%
Thailand 13%

Itu berarti kalian dan teman-teman buruh kalian menghasilkan hampri seperempat dari total kekayaan Nike. Setelah kalian punya informasi semacam ini, apa yang dapat dilakukan? Mari kita tengok dua kisah tentang bagaimana kita mesti menuntut Nike agar mau memenuhi permintaan kalian.

Kisah satu
Seorang buruh perempuan bangun suatu pagi dan memutuskan bahwa dia sudah muak dengan pekerjaannya. Ketika sampai di pabrik, dia datang ke kantor pemilik perusahaan dan menuntut agar dia diberi upah yang layak, paling tidak Rp2.000.000 per bulan. Setelah dia selesai bicara, pemilik pabrik itu menertawakannya dan berkata, “Jika kamu tak suka kerja di sini, ada 500 orang di kampung yang siap menggantikanmu besok pagi. Kusarankan kamu tutup mulut dan kembali bekerja.”

Buruh ini tampak sangat lemah, bukan? Tapi, bagaimana bila dia tidak sendirian ketika datang ke kantor si pemilik pabrik? Bagaimana jika dia didukung oleh serikat buruh di pabriknya dan seluruh dari 7.000 karyawan di pabriknya menunjukkan solidaritas mereka kepadanya? Tidakkah dia akan lebih kuat?

Kisah dua
(Yang satu ini kisah nyata)
(The Jakarta Post – 24 Juli 2007) Ribuan buruh dari dua perusahaan pembuat sepatu lokal menggelar demo pada hari Senin kemarin untuk menyampaikan tuntuan mereka agar perusahaan pakaian olahraga raksasa asal AS, Nike Inc., memperbarui kontrak mereka dengan para buruh. Para buruh itu berasal dari PT Naga Sakti Parama Shoe Industry (Nasa) dan PT Hardaya Aneka Shoe Industry (Hasi) yang berbasis di Tangerang dan memanufaktur sepatu secara eksklusif bagi Nike. Demo hari Senin itu adalah kali kedua para buruh dari HASI dan NASA melancarkan protes, kali ini di depan kantor Pasar Saham Jakarta di Jl. Sudirman, namun tak seorang pun tampak mendengarkan mereka. Mereka lalu berjalan dari Pasar Saham Jakarta ke Kantor Menteri Perdagangan di Jl. Ridwan Rais, Jakarta Pusat, dan kemudian ke kantor pusat Serikat Pekerja Indonesia di Jl. Rasuna Said. Demo tersebut menyebabkan kemacetan parah di berbagai ruas jalan di ibukota. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dijadwalkan untuk bertemu dengan perwakilan Nike pada hari Selasa. Para buruh itu menuntut Nike untuk melanjutkan ordernya di perusahaan mereka atau membayarkan pesangon kepada semua buruh. Namun, mereka tidak dipekerjakan oleh Nike dan, menurut hukum, pesangon diberikan oleh pemilik pabrik. “Kami datang untuk kedua kalinya hari ini untuk menuntut agar kebutuhan kami diperhatikan sebab kami telah dieksploitasi secara besar-besaran.” Kata Suroto, sebagaimana dikutip oleh portal berita Detik.com. “Nike telah mengakhiri kontrak dengan pabrik kami secara sepihak. Nike harus memberi kompensasi untuk kerugian yang diderita buruh Nasa dan Hasi,” imbuhnya. Nike Corporation mengirimkan surat penghentian order kepada Siti Hartati Murdaya, presiden direktur PT Central Cipta Murdaya, perusahaan holding Nasa dan Hasi, pada 6 Juli. Isi surat itu adalah penghentian kerja sama dengan kedua perusahaan tersebut. Penghentian itu akan berlaku efektif dalam Sembilan bulan, dan berakhir pada Maret 2008. Nike berkata bahwa keputusan untuk memutus kontrak dengan kedua pabrik tersebut sudah bersifat final. Perusahaan raksasa itu telah memperingatkan kontraktornya mengenai produknya yang di bawah standar dan berbagai persoalan lain pada Maret tahun ini sembari mengurangi ordernya sampai 50 persen. Nike lalu menempatkan order di perusahaan sepatu lain, PT Pratama Abadi Industri, untuk mengganti order yang dibatalkannya di Nasa and Hasi. Nasa and Hasi akan beroperasi seperti biasa sampai Desember untuk memenuhi sisa order Nike. Buruh dan wakil ketua serikat buruh di Hasi, Hari S. W., menolak argumen Nike, mengatakan bahwa pabrik telah memenuhi standar kualitas dan system produksi yang diminta Nike. Buruh Nasa Agus Darsono mengatakan bahwa tak pernah ada masalah dengan kualitas dan kuantitas produk sejak kerja sama dengan Nike bermula pada 1988. Mengungkapkan keprihatinannya atas nasib ribuan buruh tersebut, walikota Tangerang Wahidin Halim mengatakan bahwa dia telah meminta pemerintah pusat untuk menemukan solusi bagi buruh dan mengirimkan surat kepada Menteri Tenaga Kerja Erman Soeparno. “Kami (pemerintah daerah) tidak dapat campur tangan dalam masalah ini,” kata Wahidin pada hari Senin. Dia berkata bahwa pemerintahannya akan mendukung upaya-upaya buruh, termasuk demo pada hari Senin itu di Jakarta. “Kami tidak ingin melihat para buruh, yang kebanyakan warga Tangerang, kehilangan pekerjaan mereka,” katanya.

Tapi kudengar Nike tetap menghentikan ordernya ke PT HASI dan PT NASA. Jadi, apa yang diperoleh para buruh dari protes tersebut?
Setelah demo ini, Nike bersedia memperpanjang kontraknya dengan PT HASI dan PT NASA selama satu tahun lagi. Itu artinya pekerjaan untuk satu tahun lagi bagi para teman kita di kedua pabrik tersebut. Tapi bayangkan bila para buruh PT HASI dan PT NASA tidak sendirian ketika berdemo pada 2007? Bagaimana bila para buruh tersebut adalah bagian dari koalisi – koalisi yang mencakup 123.000 buruh di 37 pabrik yang memproduksi produk Nike di RI? Bagaimana jika koalisi ini mengatakan kepada Nike bahwa mereka ingin semua buruh pabrik Nike di RI diupah paling rendah Rp2.000.000 per bulan dan mereka semua menolak bekerja sampai tuntutan mereka dipenuhi? Apa yang akan terjadi bila aksi ini dilakukan pada periode kuota tinggi, ketika produk harus dibuat dan dikirimkan dengan cepat? Bisakah Nike menggantikan kalian semua dalam waktu singkat untuk memenuhi kuotanya? Tahukah kalian bahwa Nike punya kontrak untuk dipenuhi dengan distributornya dari seluruh dunia? Bagaimana jika Nike tidak sanggup memenuhi 21% dari produk yang mereka janjikan kepada para distributor ini? Tidakkah itu akan membuatnya berada dalam posisi sulit di hadapan para konsumen? Mungkinkah, kalau begitu, bagi para buruh Nike di Indonesia untuk mengorganisasi diri di bawah satu koalisi, dengan satu suara, dan datang untuk menyampaikan tuntutan kepada Nike? Jadi, buruh Nike di Indonesia ternyata punya kekuatan juga, bukan?

Kalian siap beraksi?!

Kalian ingin bergabung dalam perjuangan ini dan membangun koalisi yang kuat dengan 123.000 buruh Nike di Indonesia?

Berikut adalah beberapa saran aksi yang bisa diambil:

1. Bagikan pamflet ini kepada 10 kawan di pabrik kalian.

2. Lakukan pertemuan dengan kawan-kawan kalian itu untuk mendiskusikan pertanyaan yang muncul dalam pamflet ini.

3. Bersama dua atau tiga kawan, berbicaralah dengan pemimpin serikat buruh kalian untuk membahas kemungkinan bergabung dalam koalisi.


Jim Keady, Director
Educating for Justice, Inc.
jim@educatingforjustice.org
732.988.7322
http://www.educatingforjustice.org

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 28, 2009 in BURUH

 

Tag: , , , , , ,

One response to “SWEAT SHOP

  1. redaksi

    September 4, 2009 at 1:59 am

    DERITA KAUM BURUH

    Melambung nya harga kebutuhan pokok menjelang ramadhan, membuat nasib buruh semakin kelimpungan. Gaji Rp.800.000-Rp.900.000 per bulan (rata-rata UMK Surabaya) hanya cukup untuk kebutuhan berbuka puasa dan makan sahur. Bayangkan bila buruh sudah berkeluarga dan memiliki anak, Untuk kebutuhan makan sehari-hari aja pas-pasan, belum lagi untuk kebutuhan anak, istri saat lebaran. Semua harga kebutuhan pokok naik hampir 50%, Betapa menderitanya nasib kaum buruh.

    **********

    Meminta kenaikan UMK pada saat-saat ini jelas suatu hal yang mustahil, berdemonstrasi, mogok kerja atau ngeluruk kantor dewan pasti hanya menimbulkan keributan tanpa hasil, atau bisa-bisa malah digebuki Satpol PP.

    THR (Tunjangan Hari Raya) yang selama ini menjadi kado hiburan bagi buruh sengaja di kebiri pemerintah. UU No 14/1969 tentang pemberian THR telah di cabut oleh UU No 13/2003 yang tidak mengatur tentang pemberian THR. Undang-undang yang di buat sama sekali tidak memihak kepantingan kaum buruh. Atas dasar Undang-Undang inilah pengusaha selalu berkelit dalam pemberian THR.

    Sedangkan UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, lebih memihak kepentingan investor asing dan Bank Dunia. Landasan formal seluruh aturan perundangan ini memperlemah posisi tawar buruh di bidang upah, kepastian kerja tetap, tunjangan dan hak normatif, hilangnya kesempatan kerja, partisipasi demokratis Dewan Pengupahan, dan konflik hubungan industrial. Pada prinsipnya Undang-Undang ini merupakan kepanjangan dari kapitalisme (pengusaha).

    Selain masalah gaji rendah, pemberian THR, Undang-Undang yang tidak memihak kepentingan kaum buruh, derita kaum buruh seakan bertambah lengkap kala dihadapan pada standar keselamatan kerja yg buruk. Dari data pada tahun 2001 hingga 2008, di Indonesia rata-rata terjadi 50.000 kecalakaan kerja pertahun. Dari data itu, 440 kecelakaan kerja terjadi tiap hari nya, 7 buruh tewas tiap 24jam, dan 43 lainnya cacat. Standar keselamatan kerja di Indonesia paling buruk di kawasan Asia Tenggara.

    Tidak heran jika ada yang menyebut, kaum buruh hanyalah korban dosa terstuktur dari dari kapitalisme global.

    “kesejahteraan kaum buruh Indonesia hanyalah impian kosong belaka”

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: